Mengenai Saya

Foto saya
saya adalah puja klana (putra jawa berkelana)

Jumat, 19 Agustus 2011

efek Radiasi


A. LATAR BELAKANG MASALAH

           Pada saat ini handphone bukanlah merupakan barang mewah lagi, tetapi merupakan semacam alat komunikasi yang hampir dimilikioleh tiap orang. Hal itu terlihat dari berbagai macam produk handphone yang beredar di pasaran dengan harga yang relatif terjangkau serta didukung oleh adanya provider yang menjangkau wilayah-wilayahyang jauh sehinggapara pengguna handphone dapay dengan leluasa berkomunikasi tanpa harus bertemu langsung dengan orangnya. Di sampin itu masih banyak lagi manfaat handphone bagi penggunanya antara lain hemat biaya dan hemat waktu. Tetap dibalik semua itu tidak banyak orang yang tahu bahwa handphone juga membawa dampak buruk bagi kita, dampak buruk handphone bagi kita dapat kita lihat dari efek radiasi yang ditimbulkan oleh handphone ketikakita menggunakanyauntuk bertelekomunikasi.
Efek radiasi handphone inilah yang nantinya dikhawatirkan dapat membawa dampak buruk bagi banyak orangsebab hampir setiap orangmemilikinya.
Atas dasar itulah penulis mengangkat permasalahan  “efek radiasi handphone” ini sebagai judul makalahnya agar dapat djadkan sebagai pelengkap materi kliah sosiologi yang dibina oleh ibu Yulia Hastuti, S. Sos.



B. LANDASAN TEORI

          Sebelum kita membAhas lebih lanjut mengenai efek buruk radisasi handphone ada baiknya pula kita mengetahui apa itu radiasi, khususnya radiasi handphone.
Proses radiasi handphone itu sendiri adalah saat ketikakita mengaktifkan handphone maka handphone akan akan menghantar gelombang radio kepusat handphone dan gelombang radio tsb sedikit banyaknya akan terserap oeh tubuh yang akan berdampak thd kesehatan kita.
Dari hasil pengamatan penulis sendiri tentang kebiasaan sebagian besar orang dalam menggunakan handphone maka ada 6 kebiasaan yang dapat merugikan kesehatan yaitu :
1.      menggantungkan handphone di leher atau pinggang
2.      menempelkan handphone di telinga ketika menelpon
3.      sinyal handphone semakin lemah jika menmpel ditelinga
4.      percakapan melalui handphone terlampau lama
5.      sembunyi di sudut tembok dan bisik-bisik menerima tlepon rahasia
6.      mondar-mandir ketika menelpon


Disamping itu handphone tidak hanya memberikan efek buruk bagi kesehatan tetapi juga berdampak thd kehidupan masyrarakat antara lain :
a.       menurunnya minat baca masyarakat
b.      hidup konsumtif
c.       mraknya penipuan melalui handphone
d.      maraknya pornografi
e.       dll

C. PEMBAHASAN
          Dewasa ini penggunaan HP meningkat pesat. Pada masyarakat modern, HP sudah menjadi sebuah kebutuhan primer. Padahal penggunaan HP itu sendiri ternyata menimbulkan radiasi yang cukup berbahaya bagi kesehatan.
Pada HP terdapat transmitter yang mengubah suara menjadi gelombang sinusoidal kontinu yang kemudian dipancarkan keluar melalui antenna dan gelombang ini berfluktuasi melalui udara. Gelombang RF(radio frequency) inilah yang menimbulkan radiasi elektromagnetik.

Radiasi elektromagnetik terdiri dari gelombang elektrik dan energi magnetik dengan kecepatan cahaya. Semua energi elektromagnetik jatuh pada spectrum elektromagnetik, yang rangenya dari radiasi ELF(extremly low frequency) sampai sinar X dan sinar Gamma. Ketika orang menelpon, HPnya diletakkan dekat kepala. Pada posisi ini, peluang radiasi dari HP diserap oleh jaringan tubuh sangat besar. Yang sering diperdebatkan sekarang adalah seberapa besar radiasi tersebut berbahaya & apakah ada efek jangka panjang bagi kesehatan?
 
Sebelumnya perlu diketahui bahwa ada 2 jenis radiasi:
Radiasi ionisasi; radiasi tipe ini terdiri dari energi elektromagnetik yang cukup untuk mengubah atom dan molekul jaringan tubuh dan mengubah reaksi kimia pada tubuh. Contohnya : sinar gamma dan sinar X.
Radiasi non-ionisasi; radiasi ini biasanya cukup aman, hanya menyebabkan efek panas tapi tidak sampai menyebabkan kerusakan jangka panjang pada jaringan. Contohnya : energi RF(radio frequency), sinar tampak, dan radiasi microwave.

Beberapa institusi menyatakan bahwa radiasi dari penggunan HP tidak berbahaya. Dan memang radiasi HP tersebut, yang tergolong gelombang RF, tidak cukup berbahaya. Tapi bukan berarti kemungkinan adanya efek samping tidak ada. Radiasi RF pada level tinggi dapat merusak jaringan tubuh. Radiasi RF punya kemampuan untuk memanaskan jaringan tubuh seperti oven microwave memanaskan makanan. Dan radiasi tersebut dapat merusak jaringan tubuh, karena tubuh kita tidak diperlengkapi untuk mengantisipasi sejumlah panas berlebih akibat radiasi RF. Penelitian lain menunjukkan radiasi non-ionisasi (termasuk gelombang RF) menimbulkan efek jangka panjang.

Berikut beberapa penyakit dan kelainan yang berpotensi timbul karena radiasi HP :

- Kanker
- Tumor otak
- Alzheimer
- Parkinson
- Fatigue (terlalu capai)
- Sakit kepala

Penelitian yang berbeda menghasilkan hasil yang berbeda. Ada yang menyatakan radiasi HP lebih banyak menyebabkan kanker dan kelainan. Ada yang menyatakan bahwa radiasi HP tidak berhubungan dengan kanker. Terlepas dari mana yang benar atau salah tentu kita sebaiknya perlu untuk bersikap waspada dan mengantisipasi.

Hadirnya teknologi komunikasi berupa telepon seluler atau Hand Phone (HP) yang semakin pesat dan maju tidak dapat kita hindari. Tidak ada khalayak yang secara tegas menolak hadirnya teknologi yang dipuja oleh berbagai kalangan tersebut. Berbagai upaya dan cara yang kita lakukan untuk menolak hadirnya teknologi komunikasi tersebut malah justru akan semakin membuat kita pusing. Secara tidak langsung memang teknologi komunikasi membawa berbagai keuntungan bagi mereka penggunanya. Namun dibalik keuntungan yang menggiurkan tersebut ternyata terselip banyak kerugian yang menyebabkan dampak buruk bagi psikologis dan kesehatan penggunaan teknologi komunikasi itu sendiri.

            Perkembangan jenis HP semakin hari semakin meningkat. Mulai dari fasilitas yang disediakan sampai bentuknya. Perkembangan pesat dalam dunia sistem komunikasi kita tentunya akan mengubah pola komunikasi yang terjadi di masyarakat selama ini. Sebelum ada media massa, nyaris sistem komunikasi yang berkembang di Indonesia masih memakai peralatan sederhana (media tradisional maupun tatap muka). Akan tetapi lima tahun terakhir, Indonesia dihebohkan dengan pola komunikasi melalui telepon seluler atau biasa disebut dengan Hand Phone (HP). Bagi orang komunikasi, mereka menyebutnya dengan komunikasi seluler.

Komunikasi seluler hanyalah salah satu dari sekian banyak layanan yang dimungkinkan karena adanya pengintregasian komunikasi dengan komputer. Di Amerika Serikat, sistem-sistem pemutaran nomor telepon telah dikomputerisasi sejak tahun 1960-an, namun hal ini tidak dipergunakan sampai perusahaan telekomunikasi AT&T bubar dua dekade kemudian dan perusahaan-perusahaan telepon mulai menerapkan cara baru dan berbeda dalam memutar nomor telepon, (Roger Fidler, Mediamorfosis, 19, 2003).

Teknologi seluler, yang tergantung pada banyak stasiun pemancar dan penerima berkekuatan rendah dengan daerah-daerah layanannya yang tumpang tindih atau disebut sel-sel, membuka pasar telepon mobil yang secara signifikan menurunkan jumlah gelombang radio yang dibutuhkan untuk komunikasi tanpa kabel. Dengan radio-telepon, pasar selalu dibatasi oleh kelangkaan frekuensi yang dapat diberikan kepada para pelanggan. Karena dapat memakai frekuensi yang sama secara berulang-ulang, sistem-sistem seluler mampu menyediakan akses benar-benar kepada setiap orang, (Roger Fidler, Mediamorfosis, 20, 2003).

Pandangan tersebut semakin mematahkan anggapan bahwa teknologi komunikasi tidak begitu penting dan oleh karenanya kehadirannya tidak perlu dinantikan. Sebaliknya teknologi komunikasi sangat penting dan dinantikan kehadirannya setiap saat dan setiap waktu. Kepintaran, kecanggihan dan fasilitas yang dimiliki oleh teknologi komunikasi menjadi tolok ukur seberapa besar fungsi dan

Askep Trauma ABdomen


TRAUMA ABDOMEN
A. PENGERTIAN
Trauma adalah cedera/rudapaksa atau kerugian psikologis atau emosional (Dorland, 2002).
Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan emosional yang hebat (Brooker, 2001).
Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001).
Trauma abdomen adalah cedera pada abdomen, dapat berupa trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001).
Trauma perut merupakan luka pada isi rongga perut dapat terjadi dengan atau tanpa tembusnya dinding perut dimana pada penanganan/penatalaksanaan lebih bersifat kedaruratan dapat pula dilakukan tindakan laparatomi (FKUI, 1995).

B. ETIOLOGI DAN KLASIFIKASI
1. Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium).
Disebabkan oleh : luka tusuk, luka tembak.
2. Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium).
Disebabkan oleh : pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman (set-belt) (FKUI, 1995).


C. PATOFISIOLOGI
Tusukan/tembakan ; pukulan, benturan, ledakan, deselerasi, kompresi atau sabuk pengaman (set-belt)-Trauma abdomen- :
1. Trauma tumpul abdomen
 Kehilangan darah.Æ
 Memar/jejas pada dinding perut.Æ
 Kerusakan organ-organ.Æ
 NyeriÆ
 Iritasi cairan ususÆ
2.Trauma tembus abdomen
 Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organÆ
 Respon stres simpatisÆ
 Perdarahan dan pembekuan darahÆ
 Kontaminasi bakteriÆ
 Kematian selÆ
  1 & 2 menyebabkan :
  • Kerusakan integritas kulit
  • Syok dan perdarahan
  • Kerusakan pertukaran gas
  • Risiko tinggi terhadap infeksi
  • Nyeri akut (FKUI, 1995).
D. TANDA DAN GEJALA
1. Trauma tembus (trauma perut dengan penetrasi kedalam rongga peritonium) :
 Hilangnya seluruh atau sebagian fungsi organÆ
 Respon stres simpatisÆ
 Perdarahan dan pembekuan darahÆ
 Kontaminasi bakteriÆ
 Kematian selÆ
2. Trauma tumpul (trauma perut tanpa penetrasi kedalam rongga peritonium).
 Kehilangan darah.Æ
 Memar/jejas pada dinding perut.Æ
 Kerusakan organ-organ.Æ
 Nyeri tekan, nyeri ketok, nyeri lepas dan kekakuan (rigidity) dinding perut.Æ
 Iritasi cairan ususÆ (FKUI, 1995).

E. KOMPLIKASI
 Segera : hemoragi, syok, dan cedera.F
 Lambat : infeksi (Smeltzer, 2001).F

F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
$ Pemeriksaan rektum : adanya darah menunjukkan kelainan pada usus besar ; kuldosentesi, kemungkinan adanya darah dalam lambung ; dan kateterisasi, adanya darah menunjukkan adanya lesi pada saluran kencing.
 Laboratorium : hemoglobin, hematokrit, leukosit dan analisis urine.$
 Radiologik : bila diindikasikan untuk melakukan laparatomi.$
 IVP/sistogram : hanya dilakukan bila ada kecurigaan terhadap trauma saluran kencing.$
$ Parasentesis perut : tindakan ini dilakukan pada trauma tumpul perut yang diragukan adanya kelainan dalam rongga perut atau trauma tumpul perut yang disertai dengan trauma kepala yang berat, dilakukan dengan menggunakan jarum pungsi no 18 atau 20 yang ditusukkan melalui dinding perut didaerah kuadran bawah atau digaris tengah dibawah pusat dengan menggosokkan buli-buli terlebih dahulu.
 Lavase peritoneal : pungsi$ dan aspirasi/bilasan rongga perut dengan memasukkan cairan garam fisiologis melalui kanula yang dimasukkan kedalam rongga peritonium (FKUI, 1995).

G. PENATALAKSANAAN
 Penatalaksanaan kedaruratan ; ABCDE.#
 Pemasangan NGT untuk pengosongan isi lambung dan mencegah aspirasi.#
 Kateter dipasang untuk mengosongkan kandung kencing dan menilai urin yang keluar (perdarahan).#
# Pembedahan/laparatomi (untuk trauma tembus dan trauma tumpul jika terjadi rangsangan peritoneal : syok ; bising usus tidak terdengar ; prolaps visera melalui luka tusuk ; darah dalam lambung, buli-buli, rektum ; udara bebas intraperitoneal ; lavase peritoneal positif ; cairan bebas dalam rongga perut) (FKUI, 1995).

MANAJEMEN KEPERAWATAN
A. PENGKAJIAN
Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994).
Pengkajian pasien trauma abdomen (Smeltzer, 2001) adalah meliputi :
1. Trauma Tembus abdomen
 Dapatkan riwayat mekanisme cedera ; kekuatan tusukan/tembakan ; kekuatan tumpul (pukulan).@
 Inspeksi abdomen untuk tanda cedera sebelumnya : cedera tusuk, memar, dan tempat keluarnya peluru.@
@ Auskultasi ada/tidaknya bising usus dan catat data dasar sehingga perubahan dapat dideteksi. Adanya bising usus adalah tanda awal keterlibatan intraperitoneal ; jika ada tanda iritasi peritonium, biasanya dilakukan laparatomi (insisi pembedahan kedalam rongga abdomen).
 Kaji pasien untuk progresi distensi abdomen, gerakkan@ melindungi, nyeri tekan, kekakuan otot atau nyeri lepas, penurunan bising usus, hipotensi dan syok.
 Kaji cedera dada yang sering mengikuti cedera intra-abdomen, observasi cedera yang berkaitan.@
 Catat semua tanda fisik selama pemeriksaan pasien.@

2. Trauma tumpul abdomen
@ Dapatkan riwayat detil jika mungkin (sering tidak bisa didapatkan, tidak akurat, atau salah). dapatkan semua data yang mungkin tentang hal-hal sebagai berikut :
• Metode cedera.
• Waktu awitan gejala.
• Lokasi penumpang jika kecelakaan lalu lintas (sopir sering menderita ruptur limpa atau hati). Sabuk keselamatan digunakan/tidak, tipe restrain yang digunakan.
• Waktu makan atau minum terakhir.
• Kecenderungan perdarahan.
• Penyakit danmedikasi terbaru.
• Riwayat immunisasi, dengan perhatian pada tetanus.
• Alergi.
 Lakukan pemeriksaan cepat pada seluruh tubuh pasienuntuk mendeteksi masalah yang mengancam kehidupan.@

PENATALAKSANAAN KEDARURATAN
1. Mulai prosedur resusitasi (memperbaiki jalan napas, pernapasan, sirkulasi) sesuai indikasi.
2. Pertahankan pasien pada brankar atau tandu papan ; gerakkan dapat menyebabkan fragmentasi bekuan pada pada pembuluh darah besar dan menimbulkan hemoragi masif.
a) Pastikan kepatenan jalan napas dan kestabilan pernapasan serta sistem saraf.
b) Jika pasien koma, bebat leher sampai setelah sinar x leher didapatkan.
c) Gunting baju dari luka.
d) Hitung jumlah luka.
e) Tentukan lokasi luka masuk dan keluar.
3. Kaji tanda dan gejala hemoragi. Hemoragi sering menyertai cedera abdomen, khususnya hati dan limpa mengalami trauma.
4. Kontrol perdarahan dan pertahanan volume darah sampai pembedahan dilakukan.
a) Berikan kompresi pada luka perdarahan eksternal dan bendungan luka dada.
b) Pasang kateter IV diameter besar untuk penggantian cairan cepat dan memperbaiki dinamika sirkulasi.
c) Perhatikan kejadian syoksetelah respons awal terjadi terhadap transfusi ; ini sering merupakan tanda adanya perdarrahan internal.
d) Dokter dapat melakukan parasentesis untuk mengidentifikasi tempat perdarahan.
5. Aspirasi lambung dengan selang nasogastrik. Prosedur ini membantu mendeteksi luka lambung, mengurangi kontaminasi terhadap rongga peritonium, dan mencegah komplikasi paru karena aspirasi.
6. Tutupi visera abdomen yang keluar dengan balutan steril, balutan salin basah untuk mencegah nkekeringan visera.
a) Fleksikan lutut pasien ; posisi ini mencegah protusi lanjut.
b) Tunda pemberian cairan oral untuk mencegah meningkatnya peristaltik dan muntah.
7. Pasang kateter uretra menetap untuk mendapatkan kepastian adanya hematuria dan pantau haluaran urine.
8. Pertahankan lembar alur terus menerus tentang tanda vital, haluaran urine, pembacaan tekanan vena sentral pasien (bila diindikasikan), nilai hematokrit, dan status neurologik.
9. Siapkan untuk parasentesis atau lavase peritonium ketika terdapat ketidakpastian mengenai perdarahan intraperitonium.
10. Siapkan sinografi untuk menentukan apakah terdapat penetrasi peritonium pada kasus luka tusuk.
a) Jahitan dilakukan disekeliling luka.
b) Kateter kecil dimasukkan ke dalam luka.
c) Agens kontras dimasukkan melalui kateter ; sinar x menunjukkan apakah penetrasi peritonium telah dilakukan.
11. Berikan profilaksis tetanus sesuai ketentuan.
12. Berikan antibiotik spektrum luas untuk mencegah infeksi. trauma dapat menyebabkan infeksi akibat karena kerusakan barier mekanis, bakteri eksogen dari lingkungan pada waktu cedera dan manuver diagnostik dan terapeutik (infeksi nosokomial).
13. Siapkan pasien untuk pembedahan jika terdapat bukti adanya syok, kehilangan darah, adanya udara bebas dibawah diafragma, eviserasi, atau hematuria.

PENATALAKSANAAN DIRUANG PERAWATAN LANJUTAN
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan adalah suatu penyatuan dari masalah pasien yang nyata maupun potensial berdasarkan data yang telah dikumpulkan (Boedihartono, 1994).
Diagnosa keperawatan pada pasien dengan trauma abdomen (Wilkinson, 2006) adalah :
1. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan cedera tusuk.
2. Risiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan gangguan integritas kulit.
3. Nyeri akut berhubungan dengan trauma/diskontinuitas jaringan.
4. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan umum.
5. Hambatan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri/ketidak nyamanan, terapi pembatasan aktivitas, dan penurunan kekuatan/tahanan.

C. INTERVENSI DAN IMPLEMENTASI
Intervensi adalah penyusunan rencana tindakan keperawatan yang akan dilaksanakan untuk menanggulangi masalah sesuai dengan diagnosa keperawatan (Boedihartono, 1994).
Implementasi adalah pengelolaan dan perwujudan dari rencana keperawatan yang telah disusun pada tahap perencanaan (Effendi, 1995).
Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan trauma abdomen (Wilkinson, 2006) meliputi :
1. Kerusakan integritas kulit adalah keadaan kulit seseorang yang mengalami perubahan secara tidak diinginkan.
Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.
Kriteria Hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
- luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
- Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi :
a. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.
R/ mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat.
b. Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka.
R/ mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah intervensi.
c. Pantau peningkatan suhu tubuh.
R/ suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan.
d. Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas.
R/ tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi.
e. Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement.
R/ agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya.
f. Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan.
R/ balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.
g. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.
R / antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi.

2. Risiko infeksi berhubungan dengan tidak adekuatnya pertahanan perifer, perubahan sirkulasi, kadar gula darah yang tinggi, prosedur invasif dan kerusakan kulit.
Tujuan : infeksi tidak terjadi / terkontrol.
Kriteria hasil : - tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
- luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
- Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.
Intervensi dan Implementasi :
a. Pantau tanda-tanda vital.
R/ mengidentifikasi tanda-tanda peradangan terutama bila suhu tubuh meningkat.
b. Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik.
R/ mengendalikan penyebaran mikroorganisme patogen.
c. Lakukan perawatan terhadap prosedur invasif seperti infus, kateter, drainase luka, dll.
R/ untuk mengurangi risiko infeksi nosokomial.
d. Jika ditemukan tanda infeksi kolaborasi untuk pemeriksaan darah, seperti Hb dan leukosit.
R/ penurunan Hb dan peningkatan jumlah leukosit dari normal bisa terjadi akibat terjadinya proses infeksi.
e. Kolaborasi untuk pemberian antibiotik.
R/ antibiotik mencegah perkembangan mikroorganisme patogen.

3. Nyeri adalah pengalaman sensori serta emosi yang tidak menyenangkan dan meningkat akibat adanya kerusakan jaringan aktual atau potensial, digambarkan dalam istilah seperti kerusakan ; awitan yang tiba-tiba atau perlahan dari intensitas ringan samapai berat dengan akhir yang dapat di antisipasi atau dapat diramalkan dan durasinya kurang dari enam bulan.
Tujuan : nyeri dapat berkurang atau hilang.
Kriteria Hasil : - Nyeri berkurang atau hilang
- Klien tampak tenang.
Intervensi dan Implementasi :
a. Lakukan pendekatan pada klien dan keluarga
R/ hubungan yang baik membuat klien dan keluarga kooperatif
b. Kaji tingkat intensitas dan frekwensi nyeri
R/ tingkat intensitas nyeri dan frekwensi menunjukkan skala nyeri
c. Jelaskan pada klien penyebab dari nyeri
R/ memberikan penjelasan akan menambah pengetahuan klien tentang nyeri
d. Observasi tanda-tanda vital.
R/ untuk mengetahui perkembangan klien
e. Melakukan kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian analgesik
R/ merupakan tindakan dependent perawat, dimana analgesik berfungsi untuk memblok stimulasi nyeri.

4. Intoleransi aktivitas adalah suatu keadaaan seorang individu yang tidak cukup mempunyai energi fisiologis atau psikologis untuk bertahan atau memenuhi kebutuhan atau aktivitas sehari-hari yang diinginkan.
Tujuan : pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.
Kriteria hasil : - perilaku menampakan kemampuan untuk memenuhi kebutuhan diri.
- pasien mengungkapkan mampu untuk melakukan beberapa aktivitas tanpa dibantu.
- Koordinasi otot, tulang dan anggota gerak lainya baik.
Intervensi dan Implementasi :
a. Rencanakan periode istirahat yang cukup.
R/ mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan, dan energi terkumpul dapat digunakan untuk aktivitas seperlunya secar optimal.
b. Berikan latihan aktivitas secara bertahap.
R/ tahapan-tahapan yang diberikan membantu proses aktivitas secara perlahan dengan menghemat tenaga namun tujuan yang tepat, mobilisasi dini.
c. Bantu pasien dalam memenuhi kebutuhan sesuai kebutuhan.
R/ mengurangi pemakaian energi sampai kekuatan pasien pulih kembali.
d. Setelah latihan dan aktivitas kaji respons pasien.
R/ menjaga kemungkinan adanya respons abnormal dari tubuh sebagai akibat dari latihan.

5. Hambatan mobilitas fisik adalah suatu keterbatasan dalam kemandirian, pergerakkan fisik yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremitas atau lebih.
Tujuan : pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.
Kriteria hasil : - penampilan yang seimbang..
- melakukan pergerakkan dan perpindahan.
- mempertahankan mobilitas optimal yang dapat di toleransi, dengan karakteristik :
 0 =ü mandiri penuh
 1 =ü memerlukan alat Bantu.
 2 =ü memerlukan bantuan dari orang lain untuk bantuan, pengawasan, dan pengajaran.
 3 = membutuhkan bantuan dari orang lain dan alat Bantu.ü
 4 = ketergantungan; tidak berpartisipasi dalam aktivitas.ü
Intervensi dan Implementasi :
a. Kaji kebutuhan akan pelayanan kesehatan dan kebutuhan akan peralatan.
R/ mengidentifikasi masalah, memudahkan intervensi.
b. Tentukan tingkat motivasi pasien dalam melakukan aktivitas.
R/ mempengaruhi penilaian terhadap kemampuan aktivitas apakah karena ketidakmampuan ataukah ketidakmauan.
c. Ajarkan dan pantau pasien dalam hal penggunaan alat bantu.
R/ menilai batasan kemampuan aktivitas optimal.
d. Ajarkan dan dukung pasien dalam latihan ROM aktif dan pasif.
R/ mempertahankan /meningkatkan kekuatan dan ketahanan otot.
e. Kolaborasi dengan ahli terapi fisik atau okupasi.
R/ sebagai suaatu sumber untuk mengembangkan perencanaan dan mempertahankan/meningkatkan mobilitas pasien.

D. EVALUASI
Evaluasi addalah stadium pada proses keperawatan dimana taraf keberhasilan dalam pencapaian tujuan keperawatan dinilai dan kebutuhan untuk memodifikasi tujuan atau intervensi keperawatan ditetapkan (Brooker, 2001).
Evaluasi yang diharapkan pada pasien dengan trauma abdomen adalah :
1. Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.
2. Infeksi tidak terjadi / terkontrol.
3. Nyeri dapat berkurang atau hilang.
4. Pasien memiliki cukup energi untuk beraktivitas.
5. Pasien akan menunjukkan tingkat mobilitas optimal.

DAFTAR PUSTAKA
Boedihartono, 1994, Proses Keperawatan di Rumah Sakit, Jakarta.
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan Ed.31. EGC : Jakarta.
Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta.
FKUI. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu bedah. Binarupa Aksara : Jakarta
Nasrul Effendi, 1995, Pengantar Proses Keperawatan, EGC, Jakarta.
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8 Vol.3. EGC : Jakarta.


BAB III
Asuhan Keperawatan
Pada Ny. L Dengan CVA DI Ruang ICU

No.me                         : 481839
Tgl masuk                    : 21 Maret 2011
Ruangan                      : ICU
Tgl pengkajian : 02 April  2011
Diagnosa Medis          : CVA

A.Pengkajian
    1. Identitas pasien
            Nama               :Ny. L
            Umur               :46 Tahun                                                                     
            Jenis kelamin  : Perempuan
            Agama             : Islam
Pekerjaan         : IRT
            Alamat             : Jln. Hbrida No.10
           


    2.Penanggung jawab
            Nama               : Tn.H
            Umur               : 50 Tahun
            Agama             : Islam
            Jenis kelamin  : Laki-laki        
            Pekerjaan         : PNS
Alamat            : Jln. Hbrida No.10
            Hubungan dengan pasien : Suami

B.Riwayat kesehatan
1.    Keluhan utama
Pasien datang ke IGD RSUD dr. M. Yunus Bengkulu pada tanggal 20 Maret 2011 dengan keluhan terjadi penurunan kesadaran secara tiba-tiba saat bagun tidur.
2.    Riwayat penyakit sekarang
Pada saat dikaji keadaan umum pasien lemah, kesadaran apati, GC 7, anggota tubuh sebelah kanan tidak bisa digerakkan, TD : 110/90 mmHg, Nadi : 98x/manit, Suhu : 36,7 ° c, RR : 26x/menit. Tangan kanan terpasang infuse RL gtt 20x/menit. terpasang NGT, kateter, terpasang fentilator, monitor, terpasang gudel, pasien bedrest ditempat tidur.
3.    Riwayat penyakit terdahulu
Keluarga pasien mengatakan, klien pernah mengalami penyakit yang sama ± 1 tahun yang lalu dan pernah dirawat di rumah sakit.

4.      Penyakit keluarga
Pasien mengatakan didalam keluarganya tidak ada yang menderita penyakit menular  (DM atau TBC)dan penyakit keturunan.

C. Pemeriksaan Fisik
            a. Keadaan umum
                TD  : 110/90 mmHg
                 N  : 98kali/menit  
S    : 36o C
                 R R  : 26 kali/menit

b.  Kepala
·           Inspeksi
Warna rambut              : Rambut Hitam.
Keadaan kepala           : Kebersihan kurang.
·           Palpasi
Hematom                     : (-)

c. Mata
·           Inspeksi
Bentuk             : Simetris
Konjungtiva    : An-anemis
Sclera               : An- icterik
Pupil                : Isokor
            d. Hidung
·           Inspeksi
Bentuk                         : Simetris
Kebersihan                  : Cukup
Polib                            : (-)
            e. Mulut
·           Inspeksi
Bentuk                         : Simetris
Keadaaan Mulut          : -    Bibir pucat, terdapat  secret, pasien terpasang NGT, terpasang Gudel.
-          Ada caries gigi.
            f. Telinga
·                    Inspeksi
Bentuk                         : Simetris
Keadaan Telinga         : Secret tidak ada
Fungsi Pendengaran    : Baik
            g. leher
·         Inspeksi
Bentuk                         : Simetris
·         Palpasi
-          Pembesaran vena jugularis            : (-)
-          Pembsaran kelenjar limfe              : (-)
-          Pembesaran kelenjar tiroid            : (-)




            h. Thorax
·           Inspeksi
Bentuk             : Simetris.
Pola napas       : Teratur
·           Palpasi             : Gerakan dada kanan dan dada kiri sama
·            Aus kultasi     : Tidak terdapat suara tambahan.
i.         Abdomen
·         Inspeksi
Bentuk             : Flat
·         Palpasi
·           Hati dan limfe tidak teraba
·           Tidak ada nyeri tekan
·         Auskultasi
·           Bising usus 20x /menit
k. Extremitas
·         Atas
Kelengkapan               :  -  Jari-jari lengkap
-  Tangan kanan terpasang infuse RL
·         Bawah
Kelengkapan               : - Jari-jari lengkap
·         Ada luka lecet di lutut sebelah kiri, besar lukka 2x1x1cm.
·         Kekuatan otot
1          5
                                                1          5


D.  Therpy
·      IUFD RL gtt 20 tetes/menit.
·      Nicholin 3 X 1 ampul
·      Maxipim 3 X 1 gram
·      cravit 1 x 500 mg IV
·      fluimycil 3 X 15 cc
·      sucralfat 3 X 15 cc
·      dopamin drip 3

F. Pemeriksaan Penunjang
·       Rontgen
·       Photo Thorax
·       Pemeriksaan Laboratorium












G.  ADL (Aktivitas sehari-hari)
NO
Uraian
Sebelum sakit
Saat sakit
1.

2.

3.








4.


5.





6.
Aktivitas

Integritasego

Eleminasi
BAB
·         Frekuensi
·         Konsistensi
·         Warna
·         Bau
BAK
·         Frekuensi
·         Warna
Istirahat/Tidur
·         Tidur siang
·         Tidur malam
Personal hygiene
·         Mandi
·         Gosok gigi
·         Keramas
·         Ganti pakaian

Pola nutrisi
Makan
·         Jenis
·         Frekuensi
·         Porsi
Pasien melakukan kegiatan sehari-hari.
Murah senyum dan ramah.


2x/hari
Lembek berbentuk
Kuning
Khas

5-6x /hari
Kuning

1-2 jam/hari
7-8 jam

2 kali/hari
2kali/hari
3kali/minggu
2kali/hari



Nasi,sayur dan lauk pauk.
3kali/hari
1porsi habis
Klien tidak melakukan aktivitas.
Banyak diam.



1 x/hari
Lembek
Kuning
Khas

Klien memakai kateter menetap.

Klien lebih banyak tidur

Klien hanya dilab dengan air hangat 2x/hari.




Klien terpasang NGT
H. Analisa data
NO
Data focus
Etiologi
Maslah
1.












Ds : - Keluarga mengatakan klien sulit bernapas terdapat banyak lendir di mulut.

Do : - klien tampak sulit bernapas.
- Klien menggunakan fentilator.
- Klien terpasang gudel.
- Mulut klien terdapat secret.
- RR : 38 x/menit
Penurunan kesadaran
 


Penurunan reflek batuk
Akumulasi sputum di jalan nafas

Ketidak efektifan jalan napas.








2.








Ds : - Keluarga mengatakan klien mengeluh pusing.
Do : - Klien tampak lemas.
-       Klien tampak memengangi kepalanya.

Penurunan blood ke otak

Hipoksia jaringan otak

Infrak Otak

Edema jaringan otak


Risiko peningkatan TIK


F.   Diagnosa Keperawatan
1.      Ketidak efektifan jalan napas berhubungan dengan penumpukan secret di mulut (kelemahan).
2.      Risiko peningkatan TIK berhubungan dengan penambahan isi otak/edema jaringan otak.

G.  Rencana keperawatan
No
Tujuan & criteria hasil
Intervensi
Rasionalisasi
1.




















 2.
Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan jalan napas membaik, dengan criteria hasil :
-             Sekret tidak ada.
-             Pernapasaan membaik.
-             Kebutuhan oksigen terpenuhi









Setelah di lakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan Tidak terdapat tanda peningkatan tekanan intra kranial
Criteria hasil :
·   Nyeri kepala berkurang/hilang.
·   Keadaan umum membaik.
·        Obserfasi keadaan umum klien.
·        Kaji tanda-tanda vital klien
·        Lakukan section



·        Pasang monitor.

·        Lakukan ekstensi pada leher
·        Berikan terapi sesuai dengan terapi dokter





·        Obserfasi keadaan umum klien.
·        Kaji tanda-tanda vital klien
·         Tinggikan kepala tempat tidur 15-30 derajat kecuali ada kontra indikasi.Hindari mengubah posisi dengan cepat.
·         Pertahankan lingkungan  tenang, sunyi dan pencahayaan redup.
·         Atur posisi senyaman mungkin
·        Mengetahui keadan umum klien.
·        Mengetahui TTV klien
·        Membersihkan secret dan lendir darah pada jalan napas.
·        Untuk memenuhi kebutuhan  oksigen
·        Untuk membuka jalan napas
·        Terapi yang cepat mempercepat pemulihan



·        Mengetahui keadan umum klien.
·        Mengetahui TTV klien
·        Posisi kepala yang lebih rendah dari pada badan dapat meningkatkan TIK

·        Memberikan rasanyaman kepada klien.
·        Memberikan rasanyaman klien dan mengurangi tekanan intra cranial.









H.      Implementasi Keperawatan
No
Tgl/jam
Implementasi Keperawatan
Evaluasi Formatif
1.
03 april 2011
15.30
·        Mengobserfasi keadaan umum klien.
·        Mengkaji tanda-tanda vital klien.



·        Melakukan section

·        Memasang fentilator.
·        Melakukan ekstensi pada leher
·        Memberikan terapi sesuai dengan terapi dokter
·       Keadaan umum pasien lemah.

·       TTV pasien
Td : 110/90 mmHg.
N : 87 x/menit
RR : 26 x/menit
S : 36, 7°C.
·       Penumpukan secret di mulut pasien berkurang.
·       Oksigen terpenuhi.
·       Jalan napas terbuka
·       Terapi di berikan sesuai jam.
2.
03 april 2011
15.45
·        Mengobserfasi keadaan umum klien.
·        Mengkaji tanda-tanda vital klien




·        Memberikan lingkungan yang nyaman kepada klien.
·         Mengatur posisi senyaman mungkin.

·       Keadaan umum pasien lemah.

·       TTV pasien
Td : 110/90 mmHg.
N : 87 x/menit
RR : 26 x/menit
S : 36,7°C.
·      Pasien dapat beristirahat dengan nyaman.
·      Posisi kepala lebih rendah dari pada badan.


I.  Evaluasi
No
Tgal/jam
Evaluasi
Paraf
1.












2.
03-05-2011

16.00










03-05-2011

16.00
S: - Keluarga klien mengatakan klien terlihat tidak sesak lagi.
-   Keluarga mengatakan mulut pasien masih terdapat lender.
O :  - Pasien masih menggunakan oksigen
-  Penumpukan secret dimulut pasien berkurang
-  RR : 26 x/menit

A : Intervensi tercapai sebagian
P : Intervensi dilanjutkan


S : Keluarga mengatakan klien tidak mengeluh nyeri kepala lagi.

O :  -  Klien tampak tenang
-   Klien tidak mengeluh nyeri.
TTV : TD  : 110/90 mmHg
                 N  : 87kali/menit  
S    : 36,7o C
                 R R  : 26 kali/menit
A : Intervensi tercapai sebagian.

 P : Intervensi dilanjutkan